Perycantiq

March,2008

saat kapan melepas jilbab?

Filed under: wanita Bertanya Ulama Menjawab — perycantiq @ '9:49:a'

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mo bertanya?saya memakai jilbab, tapi saya masih saja tergoda dengan teman-teman saya yang tidak memakai jilbab.Pernah terlintas dalam pikiran saya..sepertinya bebas ya kalo nggak pakai kerudung,tapi kalo saya ingat-ingat lagi bahwa kaum muslimah diwajibkan untuk memakai jilbab..pikiran saya yang seperti itu saya lupakan.Nah..walaupun saya memakai jilbab..(saya kan tinggal di asrama),,apakah saya boleh tidak memakai jilbab di hadapan teman-teman saya itu(teman-teman saya itu perempuan semua)?lalu jika tidak boleh,,apa yang mesti saya lakukan?lalu saat-saat kapan saya boleh melepas jilbab saya?lalu apa saat saya mau tidur,saya mesti pakai kerudung saat saya berada di asrama?sebelumnya terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Persoalan memakai dan melepas jilbab tidak terkait dengan kondisi, tempat, dan waktu. Tetapi terkait dengan larangan untuk memmperlihatkan aurat kepada sejumlah orang seperti yang disebutkan oleh Alquran. Terkait dengan apa saja dari bagian tubuh wanita yang boleh dan tidak boleh terlihat adalah sebagai berikut:

- Kepada suami, semua bagian tubuh waniat boleh terlihat.

-kepada sebelas golongan yang Allah sebutkan pada surat an-Nur ayat 31 yang merupakan mahram (seperti ayah, mertua, anak, adik, kakak, dst) maka wajah, tangan, telinga, tengkuk, leher, rambut, tangan, dan betis boleh terlihat.

-kepada pria asing di laur mahram serta kepada wanita non-muslim, maka yang boleh terlihat hanya muka dan tangannya saja.

Demikian batasan yang ditetapkan oleh syariat. Sehingga ia tidak dibatasi oleh ruang, waktu, dan tempat. Kalau Anda tidur dengan wanita non-muslim, maka Anda tetap harus menutup seluruh tubuh Anda kecuali muka dan tangan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

hukum puasa

Filed under: wanita Bertanya Ulama Menjawab — perycantiq @ '9:49:a'

Pertanyaan:

Assalamualaikum,
Saya ingin mengetahui bahwa adakah kita harus menqadakan puasa kita apabila kita meninggalkannya ketika waktu datang haid dan haruskah kita langsaikan dalam masa setahun apa hukumnya jika kita tidak menqadakannya dlm jangka masa setahun?

-illa-

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Saudari Illa, wanita yang mendapat haid tidak boleh berpuasa dan menggantinya di hari lain sebanyak hari yang di dalamnya ia tidak berpuasa.

Sebaiknya qadha atau pembayaran puasa tersebut dilakukan dengan segera ketika ada kesempatan dan kalau bisa pada tahun yang sama. Namun apabila pembayaran hutan puasa itu tertunda sampai ke tahun atau pasca Ramadhan berikutnya maka para ulama berbeda pendapat.

Jumhur ulama berpendapat bahwa menunda pembayaran hutang puasa Ramdhan hingga Ramadhan berikutnya tanpa udzur tidak boleh. Jika ditunda maka harus ditambah dengan membayar fidyah, yaitu dengan memberi makan seorang miskin setiap hari. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn Abbâs, Ibn Umar, dan Abi Hurayrah. Menurut mereka orang yang memiliki hutang puasa lalu belum menggantinya hingga masuk ramadhan lagi, maka ia wajib memberi makan seorang miskin setiap hari sebanyak puasa yang ditinggalkan.

Sementara menurut kalangan Hanafi, penggantian puasa bisa kapan saja. Ia bisa mengganti hutang puasanya sesudah masuk ramadhan berikutnya tanpa harus membayar fidyah. Alasannya, nas Alquran bersifat umum tanpa ada batasan waktu. Yaitu Allah berfirman, “Hutang puasa itu diganti pada hari-hari yang lain.”

Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu alaikum wr.wb.

 

Niat Puasa

Filed under: wanita Bertanya Ulama Menjawab — perycantiq @ '9:49:a'

Assalaamu’alaikum Warochmatulloohi Wabarokaatuh.

Ustadz, Saya ingin menanyakan masalah yang berhubungan dengan niat puasa. Mengingat manusia seperti saya ini sering lupa, na’uudzubillah min dzaalik. Pertanyaan saya sebagai berikut:

1. Rukun Puasa yang pertama adalah niat.
Karena Puasa Ramadhan itu 1 bulan, terkadang lupa untuk niat pada malam harinya. Jika puasa sunnah, dibolehkan kita niat setelah waktu Subuh asal belum makan apa-apa sebelumnya. Bagaimana dengan puasa wajib/Ramadhon? Apakah sah juga jika niat setelah waktu Subuh?

2. Jika Tidak sah, apakah kewajibannya selain Qadha? Dan bolehkah makan/minum di siang hari karena niat puasanya tidak sah?

3. Bagaimana jika pada tanggal 1 Ramadhan kita berniat puasa fardhu Ramadhan satu (1) bulan penuh, dari awal sampai habisnya Ramadhan, untuk antisipasi kelupaan? Apakah dibolehkan dan tetap sah puasanya jika malam selanjutnya kita lupa niat?

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih, atas jawaban Ustadz.

Wassalaamu’alaikum Warochmatulloohi Wabrokaatuh.

Muchammad Charridh Almukminin
charridh

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah yang anda tanyakan itu diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan tabyitun-niyah. Berasal dari kata baata yaitu yang berarti bermalam. Dan niyah maknanya adalah berniat untuk puasa. Jadi makna istilah itu adalah berniat sejak malam sebelum esoknya berpuasa.

Dari Hafshah Ummul Mukminin ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, tidak ada puasa untuknya. (HR Khamsah).

Tidak sah puasa bagi orang yang tidak berniat sejak malam. (HR Ad-Daaruquthuni)

Para ulama sepakat bahwa untuk puasa yang bersifat wajib seperti Ramadhan, nadzar dan qadha’, setiap kita harus sudah meniatkannya sebelum melakukannya. Batas waktu berakhirnya adalah masuknya waktu Shubuh, atau sejak dimulainya puasa itu.

Sedangkan untuk puasa sunnah, tidak ada kewajiban tabyitun-niyah. Jadi meski di pagi hari seseorang sama sekali tidak berniat untuk puasa, bahkan sempat mencari-cari makanan, lalu karena tidak mendapatkan satu pun yang bisa dimakan, tiba-tiba mengubah niatnya jadi ingin berpuasa.

Dari Aisyah ra. berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW masuk ke rumahku dan bertanya, “Kamu punya makanan?” Aku menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Kalau begitu aku berpuasa saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Khusus untuk puasa sunnah hukumnya boleh tanpa tabyitun-niyah, seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Ayyamul Biidh tiap tanggal 11, 12 dan 13 bulan-bulan hijriyah, puasa Asyura, puasa Arafah dan lainnya.

Dan anda benar bahwa tanpa diniatkan sebelumnya, puasa wajib hukumnya menjadi tidak sah. Untuk itu di hari lain di luar Ramadhan nanti, ada keharusan untuk mengganti. Namun bukan berarti orang yang tidak berniat puasa di bulan Ramadhan ini boleh makan-makan di waktu siang. Dia tetap diwajibkan untuk menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi tetap tidak sah bila berpuasa.

Niat Puasa untuk Sebulan Penuh

Sebagian ulama memandang bahwa meski puasa bulan Ramadhan itu berada dalam satu bulan utuh, namun satu hari dengan lainnya tetap terpisah-pisah. Bila seseorang batal puasanya dalam satu hari, tidak berpengaruh kepada batalnya hari yang lain.

Ini menunjukkan bahwa meski berada dalam satu bulan, tetapi satu hari dengan hari yang lainnya terpisah, tidak menjadi satu. Oleh karena itu maka keharusan berniatnya pun harus satu-satu. Sehingga tiap malam harus kita lakukan tabyitun-niyah.

Namun satu pendapat dari imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan niat untuk puasa selama sebelum penuh, tanpa harus melakukannya tiap malam. Sebab yang namanya niat itu tidak harus dilakukan tepat sesaaat sebelum suatu pekerjaan dilakukan. Lagi pula meski satu hari dengan hari lainnya terpisah, tetap saja tidak ada salahnya kita berniat untuk melakukan puasa sebanyak 30 hari secara sekaligus.

Para ulama kemudian ada mengambil langkah bijak, yaitu mengkombinasikan antara kedua pendapat tersebut. Yaitu sejak malam pertama Ramadhan berniat untuk berpuasa sebulan penuh, tetapi tiap malam tetap diupayakan melakukan niat juga. Ini adalah jalan tengah yang kompromistis dan bijak. Rasanya, boleh juga kalau kita coba.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Sujud Dalam sholat Fardhu

Filed under: wanita Bertanya Ulama Menjawab — perycantiq @ '9:49:a'

Pertanyaan :
Bolehkah kita berdoa di saat sujud dalam shalat fardhu

Jawaban :
Assalamu alaikum wr.wb.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Ash-sholatu was-salamu ala nabiyyina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Salah satu waktu yang tepat bagi kita untuk berdoa kepada Allah adalah di waktu sujud. Dalam hal ini Rasul saw. bersabda,
“Jarak terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bersujud. Karena itu, perbanyaklah berdoa ketika itu.” (HR Muslim)

Beliau juga bersabda, “Aku dilarang untuk membaca Alquran saat ruku dan sujud. Di saat rukuk hendaknya kalian mengagungkan Tuhan. Adapun di saat sujud hendaknya kalian berusaha untuk berdoa. Sebab, ia sangat layak untuk dikabulkan.” (HR Muslim).

Dengan demikian, jelas kita disuruh untuk memperbanyak berdoa saat dalam kondisi sujud karena itu adalah saat terkabulnya doa. Karenanya sujud adalah saat yang sangat tepat bagi kita untuk memanjatkan doa apa saja seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.

 

March,2008

Chemistry di Balik Ayat-Ayat Cinta!

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'

Chemistry di Balik Ayat-Ayat Cinta

Memerankan karakter utama dalam film yang diangkat dari novel terlaris, Ayat-Ayat Cinta, merupakan pengalaman luar biasa buat Rianti Cartwright, Fedi Nuril, dan Carrisa Putri.

aac.jpg
Rianti Carwright, Fedi Nuril dan Carissa Putri

Ketika disodori skrip film Ayat-Ayat Cinta (AAC), Rianti sedang sibuk, “Begitu kubaca judulnya Ayat-ayat Cinta, apaan nih, feelingku kok kayak dangdut. Tapi begitu aku baca, wow! Benar-benar, gila, amazing, aku suka banget, aku pengin ikutan. Mau jadi apapun, siapapun, peran sekecil apapun, aku mau ikut. Nggak pikir-pikir lagi, harus kuambil nih,” cerita Rianti, antusias.

Mengubah Cara Pandang

Rianti membaca novel Ayat-ayat Cinta justru setelah selesai syuting film tersebut.

“Memang aku nggak tahu, tapi pernah dengar ada novel fenomenal. Ketika aku baca skripnya, aku menyukai, pengin partisipasi dalam filmnya. Oleh Mas Hanung (sutradara-red) nggak terlalu didorong membaca novel, karena dia punya interpretasi sendiri, ada sedikit perbedaan. Kutunggu selesai bikin film, baru kubaca novelnya, memang beda, dua karya artistik yang berbeda,” tutur Rianti.

Setelah membaca novelnya, “Bagus banget. Benar-benar sebuah karya tulis yang membuat kita terpana, mungkin melihat Islam dengan perspektif lebih baik. Selama ini agama kita sering diafiliasikan hal negatif teroris atau apa, aturan ketat, sedangkan novel ini memberikan gambaran Islam itu teduh, penuh cinta, penuh perasaan, sangat menghargai wanita juga, benar-benar sebuah karya luar biasa.”

Memerankan tokoh Aisha merupakan tantangan tersendiri buatnya.

“Aku harus memakai cadar. Sedangkan aku sama sekali nggak biasa pakai cadar. Rasanya sesak napas, susah makan. Aku harus belajar bagaimana gaya jalan, harus berubah semua, tingkatan iman sangat tinggi, cadar kan naik kelas dari jilbab. Aku juga harus mendalami Islam dalam konteks filmnya, bukan aku tiba-tiba jadi berubah.”

Bermain dalam AAC sedikit mengubah cara pandang Rianti terhadap perempuan berjilbab atau bercadar.

“Kupikir wanita berjilbab dan mengenakan cadar adalah wanita yang terdholimi, wanita yang tertekan. Ternyata Aisha wanita modern yang memilih gaya hidup seperti itu. Emansipasi, yang penting perempuan ada pilihan. Biarpun dibesarkan dalam agama manapun asal ada akses pendidikan, memilih ‘oh aku seperti ini’. Aisha Indo-Jerman, tumbuh di lingkungan Jerman, ia memilih menjadi muslimah, memakai cadar, tapi itu sebuah kemandirian dia, keputusan dia sendiri. Ternyata nggak semuanya tuntutan lingkungan. Banyak berdasarkan kemauan pribadi,”cerita Rianti antusias.

Kurang lebih setahun menyelesaikan film ini, Rianti makin merasakan getaran-getaran menyentuh kalbunya.

“Tentang Islam, yang tadinya aku kurang mengerti apa itu taaruf, cara bicara Islam seperti apa, arti sabar dan ikhlas belum terlalu paham, sekarang jadi lebih mengerti,” kata Rianti.

Jatuh dari unta, adalah salah satu pengalaman Rianti yang tetap dikenangnya hingga kini.

“Aku diminta Mas Hanung untuk naik unta, adegan sedang bulan madu, naik menyamping. Unta, dua kali lebih tinggi daripada kuda, dan aku nggak mungkin naik menyamping, pasti merosot. Mas Hanung, ‘Oh, kamu pasti bisa.’ Terlalu percaya diri, ha ha ha…, ya sudah, aku pakai cadar, dengan pakaian berlipat-lipat, aku yakin jatuh, beneran jatuh. Aku nangis, habis tinggi banget. Sakitnya nggak seberapa, malunya itu lho, haha…..” kenang Rianti.

Karena berbagai kendala, syuting yang awalnya akan dilakukan di Mesir tidak dapat dilaksanakan. Sebagai gantinya, syuting dilakukan di India.

“Nggak dapat Mesir, ya sudahlah, kami terima keadaan. Karena aku belum pernah ke India, buat aku luar biasa pengalaman itu, syuting di danau, lalu di samping danau ada Istana Maharaja, indah banget,” ucap Rianti.

Meski sedikit kecewatak bisa syuting di Mesir, toh Rianti mengaku banyak mengambil pelajaran. “Karena perjuangan membuat film ini benar-benar kayak sampai titik darah penghabisan,” katanya.

Cobaan Demi Cobaan

Sama hal-nya dengan Rianti, Fedi merasa bahagia jika AAC diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, kerja keras kita semua terbayar. Aku bersyukur, Ayat- Ayat Cinta disukai masyarakat, dan booming,” ungkap Fedi Nuril, singkat.

Fedi berperan sebagai Fahri bin Abdullah, seorang pria asal Jombang, Jawa Timur, mahasiswa S2 yang kuliah di Universitas Al- Azhar, Kairo, jurusan tafsir Al- Quran.

“Dia orang yang sangat ramah, lembut, suka menolong dan selalu berusaha mengikuti ajaran Al- Quran dan Hadist dalam kehidupan sehari- hari. Kelemahan terbesarnya saat berinteraksi dengan perempuan. Dia sangat kaku pada perempuan,” cerita Fedi.

Kelemahannya ini mendapat cobaan dari Allah. Fahri dicintai oleh 4 orang perempuan (1 perempuan Indonesia, 2 perempuan Mesir, dan 1 perempuan keturunan Turki Jerman).

“Film ini lebih kepada konflik yang dialami Fahri saat mendapat cobaan yang datang berturut- turut. Saking terobsesi dengan Fahri, salah satu perempuan tersebut ada yang koma. Ada juga yang memfitnah, dengan mengatakan Fahri memperkosa dirinya karena cintanya ditolak,” lanjut Fedi, serius.

“Saat baca novel dan skenarionya, aku ragu bisa memerankan Fahri atau tidak. Fahri orang yang sangat religius dan mempunyai tingkat keimanan yang sangat tinggi. Sedangkan keimananku sangat rendah. Sempat frustasi dan stress, bahkan ingin mengundurkan diri. Setelah ngobrol dengan mas Hanung dan kang Abik, akhirnya aku memutuskan untuk terus. Karena, inilah titik dimana aku bisa dekat dengan agama Islam, dan belajar banyak. Ini adalah hidayah agar aku bisa dekat dengan Allah. Aku melakukannya untuk diri sendiri, supaya mempunyai bekal untuk menjadi manusia muslim yang lebih baik,” ungkapnya, bahagia.

Fedi mengaku puas dengan usahanya berperan sebagai Fahri.

“Tapi, secara akting aku belum puas. Saat memerankan pria yang religius, berarti tingkat keimanan kita harus tinggi. Keimanan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat atau dipelajari, sangat personal antara manusia dengan Tuhan. Untuk mendalami keimanan, bukan hanya butuh waktu yang lama, tapi juga keikhlasan untuk menjalaninya,” jelas Fedi, tersenyum.

Pengalaman menarik saat ia belajar bahasa Arab dalam waktu singkat, yakni 6 bulan.

“Bahasa Arab mempunyai tantangan sendiri, dan membutuhkan perjuangan yang berat. Walaupun dialognya sedikit, tapi harus kelihatan perfect. Salah sedikit membaca mahraj, artinya akan lain. Selain itu, kita harus mempertanggung jawabkan pada Allah,” jelas Fedi, bangga.

Yang berkesan bagi Fedi adalah karena film ini sangat religius.

“Di saat kita yakin akan kereligiusan itu, seperti diberi kekuatan untuk menjalaninya. Syuting ini hanya 35 hari, tapi banyak sekali masalah dan cobaan yang harus dihadapi. Faktor x yang diluar kemampuan manusia. Tiba- tiba, semua kamera rusak. Padahal yang menggunakannya orang yang sudah profesional. Akhirnya, harus menunggu kamera baru dan jadwal tertunda. Aku, mas Hanung, dan beberapa tim mau syuting di Kairo, tapi tidak bisa berangkat karena tidak membawa visa. Padahal, kita sudah menjelaskan pada Singapore Airlines bahwa kita mendapat Visa on Arrival dari KBRI Kairo. Mas Hanung menunjukkan surat undangan dari PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhamadiyah) Kairo untuk workshop atas nama Muhamadiyah. Mereka tidak percaya, dan minta bukti yang lain. Karena itu Sabtu, kantor KBRI di Kairo tutup. Kami tidak bisa memfaks semua dokumen yang diperlukan untuk bisa pergi ke Kairo. Padahal, kita sudah di depan counter check in dan sudah mempersiapkan semuanya,” keluh Fedi, tersenyum kecut.

“Tapi, aku senang karena film ini bisa selesai. Membuat film Islam indah sekali. Walaupun banyak cobaan, tetap merasa dilindungi dan selalu diberi kekuatan untuk selalu sabar, sabar, dan sabar,” sambungnya, tersenyum.

Setelah berperan sebagai Fahri, banyak perubahan dalam diri Fedi.

“Banyak yang aku pelajari, yang membuatku tahu mana yang benar mana yang salah dalam konteks sebenarnya. Tidak hanya berdasarkan omongan seseorang, tapi mengetahui langsung dari sumbernya yakni Al- Quran dan Hadist. Ternyata, untuk menjalani hidup itu ada kuncinya. Kita harus benar- benar sabar dan ikhlas. Walaupun hidup kita lurus- lurus saja, cobaan akan tetap datang. Insya Allah, kita akan selalu diberi perlindungan oleh- Nya,” jelas Fedi, bijak.

“Dulu, aku orang yang tidak sabar, cenderung lebih blak- blakan. Apa yang aku rasakan, langsung dikeluarkan. Lebih banyak menyangkal saat mendapat cobaan. Yang aku pelajari adalah ketika Allah memberikan masalah, itu menunjukkan Dia sayang pada umat- Nya, dan ingin mereka belajar dari masalah tersebut,” paparnya, riang.

Bertukar Peran dengan Rianti

Carrisa Putri , wanita yang berperan sebagai Maria ini awalnya justru mendapatkan peran sebagai Aisha. Namun belakangan sutradara menukar peran. Tokoh Aisha diberikan pada Rianti.

Saat itu keduanya sudah menjalani reading guna mendalami peran masing-masing.

“Tapi karena alasan tertentu sutradara dan penulis skenario memutuskan untuk menukar peran yang sudah kami dalami itu. Padahal saya sudah sempat lho belajar memakai cadar. Saya pikir pasti ada tujuannya kenapa ditukar. Saya percaya semuanya ada hikmah. Nyatanya walaupun kesannya harus kerja dua kali, saya nggak mengalami kesulitan yang berarti ketika memerankan tokoh Maria. Akhirnya saya dan Rianti saling bertanya tentang tokoh yang sebelumnya sudah melekat pada diri masing-masing,” kata gadis yang akrab disapa Rissa ini.

Sebelum syuting,Rissa sempat membaca novel AAC.

“Kalau boleh saya mengatakan ini merupakan resume dari pembelajaran untuk mengenal agama Islam. Poligami yang diajarkan Islam, adalah poligami yang semata-mata terjadi bukan karena laki-laki itu tertarik pada wanita karena nafsu. Melainkan oleh sebab lain. Seperti halnya Fachri menikahi Maria karena untuk menolong wanita itu dari depresi. Begitu pula Maria menikah dengan Fachri untuk menolongnya agar tidak terperosok ke dalam penjara akibat fitnah yang disandangkan kepadanya,” ucap Carissa yang mengawali dunia akting lewat sejumlah sinetron. Antara lain Siti Nurbaya, dan Hikmah 3.

Memerankan tokoh Maria justru menjadi tantangan tersendiri baginya.

“Maria beragama kristen koptik tapi mengerti agama Islam. Dia sangat hafal surat Maryam. Sampai sekarang saya masih hafal lho surat Maryam. Jadi hitung-hitung belajar Al qur’an juga,” ucapnya Rissa yang menegaskan sosok Maria berbeda sekali dengan keseharian dirinya. Maria dikatakan Rissa, sosok wanita yang tidak bisa mencurahkan isi hari. Semuanya dipendam, makanya mengalami depresi ketika cintanya tak sampai pada Fachri.

Rissa mengatakan memang antara novel dan film AAY sangat berbeda.

“Antara novel dan filmnya sendiri memang 2 hal yang berbeda. Karena imajinasinya yang tinggi dalam novel tidak seluruhnya dapat dituangkan dalam bahasa visual. Tapi saya berharap mudah-mudahan perbedaan ini bisa menutupi kekurangan masing-masing,” tutur Rissa lagi.

Persahabatan Usai Syuting

Proses syuting AAC cukup lama. Mulai kasting Februari 2007 hingga selesai syuting Januari 2008.

“Setahun, saya belajar banyak. Sama kru dan pemain lain, sudah kayak keluarga, sering tinggal satu rumah kalau lagi syuting. Sebetulnya syuting cuma 30 hari, ketemu bulan puasa, sampai sering ke luar negeri,” cerita Rianti.

Pergi ke India untuk syuting merupakan pengalaman luar biasa penuh tantangan buat Rianti, Fedi dan Rissa.

“Naik bus, perjalanan dari Bombay ke Jodhpur seperti dari Jakarta ke Makasar. Mau naik pesawat nggak dapat tiket. Naik bus yang harusnya 24 jam ditempuh 33 jam, dua hari nggak mandi, busnya zaman dulu banget, nggak mengerti sama sekali bahasanya. Mereka nggak mengerti bahasa Inggris, mencekam, nggak ada munusia, diam menusuk. Kupikir India panas, memang iklim gurun siang panas, tapi malamnya dingin. Sampai perbatasan India-Pakistan dimarahi polisi, di rombongan kami ada 4 perempuan, takut. Soalnya di negeri orang. Tapi jadi belajar banyak,”

Pengalaman syuting di negeri orang dan berbagai peristiwa yang terjadi justru mendekatkan tiga pemain utama ini, juga kru produksi lainnya. Rianti dan Fedi y justru sudah pernah main bareng dalam film Inikah Rasanya Cinta. Jadi sudah cukup saling kenal.

“Aku sudah lumayan mengenal Fedi, jadi soal chemistry nggak usah dibangun. Seru-seruan aja, nggak canggung. Sama Carrisa justru harusnya kami tidak boleh terlalu dekat untuk pendalaman karakter, karena kami mencintai laki-laki yang sama. Tapi justru karena aku dan Carrisa nyambung banget, sekamar di India, mau nggak mau jadi dekat banget, malah jadi istri yang sangat akur, bingung kan? Hahaha….”

Keasyikan bertiga, malah waktu kru AAC pulang ke tanah air, ketiganya memisahkan diri, menginap semalam di India, belanja-belanja dan mengunjungi berbagai tempat menarik.”

“Saya beli baju muslim buat mama-papa,” cerita Rianti, senang.

“Kebetulan sama-sama lagi break, kami pergi berlibur ke sana,” Rissa menambahi. “Kalau lagi di Jakarta pun kita sering telpon-telponan, ngopi bareng. Mungkin chemisty selama syuting AAC berkelanjutan. Kita jadi saling kenal satu sama lain. Syutingnya kan lumayan lama. Di Semarang aja sempat satu bulan, belum lagi lanjut ke India,” ujar Rissa yang mengaku banyak belajar pada Fedi dan Rianti yang sudah berpengalaman main film sebelumnya. Dewi, Diah, Affi

 


Penonton Ayat-Ayat Cinta Capai 2,4 Juta, Hanung Terkapar Sakit

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'

Penonton Ayat-Ayat Cinta Capai 2,4 Juta, Hanung Terkapar Sakit

Jumat, 14–2008 18:04:51
Oleh : Rahmi

16d71_images-content-2008-03-03-228-hanung_d1.jpgBelum sampai satu bulan rilis di bioskop, film Ayat-Ayat Cinta (AAC) telah menyedot sekitar 2,4 juta penonton. Meski sukses, namun sang sutradara malah dikabarkan tengah terkapar sakit.Kabar sakitnya Hanung Bramantyo diketahui dari Iyuth, asisten Hanung, ketika halohalo.co.id, Jumat (14/03), mengkonfirmasi jumlah penonton Ayat-ayat Cinta padanya.

“Sakitnya enggak sampai parah sih, cuma demam saja, mungkin karena kecapekan,” jelas Iyuth, sambil menambahkan kalau sore ini Hanung akan berobat.

Sementara itu penulis skenario AAC, Salman Aristo, yang dihubungi secara terpisah, mengaku senang dan terkejut dengan hasil pencapaian angka penonton AAC. “Alhamdulillah, ini hasil kerja keras dari kita semua,” kata Salman.

Soal kekecewaan beberapa pihak yang mengatakan kalau versi filmnya tidak sesuai dengan versi asli di novel, menurut Salman itu adalah hal yang lumrah.

“Khasnya karya adaptasi memang begitu, tidak akan sama dengan karya asli. Bahkan dalam adaptasi kita bebas mengangkat elemen apa saja yang ingin dikedepankan,” jelas penulis skenario film Brownies, Cinta Silver, Jomblo dan Alexandria ini.
diskusi-with-aisha.jpg
Salman juga menampik kalau elemen yang dikedepankan pada film AAC ini, adalah masalah poligami. “Poligami hanya bagian dari cerita. Fokus utama kita tentu saja ke tokoh Fahri, dengan segala macam problematikanya,” imbuh pria memulai karirnya sebagai Penulis Naskah (script writer) di tahun 2004.

Menurutnya, penulisan skenario film yang dilakukan pun tak lepas dari hasil diskusi antara tim penulis skenario dengan sang penulis novelnya, Habiburrahman.

Mengingat masih banyak bioskop yang memutar AAC, bahkan untuk mendapatkan tiketnya pun masih harus mengantri, pihak MD Entertainmet selaku produser filmnya, optimis kalau target 7 juta penonton akan dapat tercapai.

Antusiasme luar biasa dari penonton ini, diperkirakan akan jauh melampaui jumlah penonton yang pernah di capai oleh film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), yaitu 4 juta penonton dalam empat bulan. Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah Anda menonton film ini? (tr)

March,2008

Tentang Film Ayat-ayat Cinta..

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'

Sebenarnya udah sejak bulan Desember film ini mau dirilis, tapi entah masalah apa yang terjadi sampai akhirnya nih film baru keluar di akhir bulan Februari 2008. Promosinya juga lumayan banyak kita lihat di billboard-billboard, yang bikin kita jadi tambah penasaran sama film produksi MD Pictures yang satu ini, apalagi kalo bukan adanya si Rianti mantan VJ MTV. So pasti bikin tambah geregetan aja menunggunya.

Tapi gimanapun, memang film garapan Hanung Bramantyo ini wajib kita tonton, apalagi buat yang udah baca novelnya. Film Ayat Ayat Cinta ini ceritanya diangkat dari novel karya Habiburrachman El Shira yang menceritakan tentang sebuah perjalanan hidup seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri (Fedi Nuril) yang sedang mengambil gelar masternya di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir.

Dalam kisahnya tersebut, Fahri terkenal sangat aktif di organisasi kampus tempat ia belajar. Saking sibuknya, ia sampai lupa akan kewajibannya untuk menikah. Padahal tidak sedikit wanita yang dekat dalam kehidupan Fahri yang sangat mendambakan untuk dinikahi. Seperti Maria Girgis (Carissa Putri), tetangga satu flat yang kebetulan beragama Kristen tapi sangat mengagumi Al Quran dan Fahri, kekagumannya itu lama-lama berubah menjadi rasa cinta terhadap Fahri. Di kampus, ada Nurul (Melani Putria) yang juga menaruh hati terhadap Fahri. Berikutnya adalah Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga Fahri yang sering disiksa oleh Ayah angkatnya. Fahri pun merasa tergugah untuk menolong Noura, tapi itu hanya sebatas menolong saja tidak lebih, padahal Noura mengharapkan lebih dari sekedar pertolongan Fahri, tapi juga cintanya.

Di saat Fahri sedang bimbang hadirlah seorang muslimah bernama Aisha (Rianti Cartwright), seorang gadis yang memiliki hati dan mata yang indah. Fahri pun terbius dengan kecantikan hati Aisha, begitu juga dengan Aisha yang jatuh hati terhadap Fahri. Permasalahan pun muncul ketika Noura menuduh Fahri telah memperkosanya.

Selama ini kita dimanja dengan kisah cinta saja, tanpa memperhatikan sisi religinya. Tapi Ayat Ayat Cinta memberikan sebuah sentuhan yang berbeda, kisah cinta yang dibungkus indah dengan ajaran agama yang tidak menggurui.

Konflik-konflik yang terjadi dalam film ini, kadang memaksa kita untuk meneteskan air mata. Kalo dari sisi pengambilan gambar, film Ayat Ayat Cinta bisa dibilang lumayan lah. Warna yang dominan kuning, warna khas padang pasir akan menghiasi film yang berdurasi 120 menit ini.

Tapi sayang, ada detil yang sedikit terlupakan, yaitu terlihatnya boom (mikrofon untuk merekam suara) tiba-tiba saja terlihat dalam adegan di mana Surya Saputra sedang berbicara dengan Rianti. Pesan Gue sih, kalo menonton film ini, jangan lupa bawa tissu, sedih banget soalnya. (AF)

March,2008

Film “Ayat-ayat Cinta”

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'

 Film “Ayat-ayat Cinta”

The Islamic romance film “Ayat Ayat Cinta”, political Islam, and pesantren prodigies.

The wildly popular novel by Habiburrahman El-Shirazy , and now film, Ayat Ayat Cinta (Love Verses), tells the story of young handsome Fahri bin Abdullah Shiddiq (played by Fedi Nuril), an Indonesian student attending Al-Azhar University in Cairo, Egypt, who attracts beautiful young women left, right, and centre, four of them in fact:

  • Nurul (played by Melanie Putria), also an Indonesian in Egypt, the daughter of an important East Java kyai.
  • Noura (Zaskia Adya Mecca), an ungrateful Egyptian girl (Fahri saves her life but she betrays him later).
  • Maria (Carissa Putri) a Coptic Christian living next door to Fahri, who inexplicably converts to Islam at the end of the film.
  • Aisha (Rianti Cartwright), from a wealthy German-Arab family.

In the end Fahri plumps for the rich girl Aisha and they no doubt live happily ever after.

Ayat Ayat Cinta
Ayat Ayat Cinta.

The book and film have been taken up by some on the Islamist side of politics, including parliament chairman Hidayat Nur Wahid of the PKS, who on 7th March met with some of the cast and crew of the film. Hidayat said he hadn’t seen the film, and he hoped there was no violence or pornography in it, but he had read the book and liked it.

Ayat Ayat Cinta novel
Ayat Ayat Cinta novel.

Hidayat said the book’s author, Habiburrahman El-Shiraz, was a good example of a new generation of writers who had attended Islamic boarding schools (pesantren) and who could bring Islamic teachings to the masses. 

Separately Habiburrahman himself, usually called Kang Abik, 32 years old, says he wants people to know that pesantren schools don’t just teach religion but universal subjects as well.

Habiburrahman El-Shirazy
Habiburrahman El-Shirazy

He has three more Islamic novels due out soon, Langit Mekah Berwarna Merah (Red Sky of Mecca), Bidadari Bermata Bening (Radiant Eyed Angel), and Bulan Madu di Yerussalem (Honeymoon in Jerusalem). 

Film Ayat-ayat Cinta memakan korban Jiwa!!subbhanallah….

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'
Quote:

Film ayat-ayat cinta, satu orang meninggal sehabis menonton Film tersebut

Ditulis pada 8 Maret, 2008 oleh melayubertuah

Tim laporan Topik Muhammad Bayu Melaporkan dari Pontianak Kalbar” Film ayat-ayat cinta merupakan kenangan yang tak dapat dilupakan

buat Syarifah Mahani Asegap, Warga kompleks Teluk belus ini kehilangan suami tercintanya Gusti Adi Faisal 63 tahun usai menonton Film ayat-ayat cinta.Alm gusti terkena serangan jantung ketika mereka membahas Film yang baru saja di tontonnya dan langsung di larikan kerumah sakit namun nyawanya tak tertolong lagi.

Kekekeke ternyata ayat2 setan memang hanya membuat manusia celaka…

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=153012

Quote:

Selasa, 4 Maret 2008

Tak Sadar Suami Meninggal hingga Akhir Pemutaran
Di Balik Demam Warga Pontianak Menonton Film Ayat-ayat Cinta

Pontianak,- Ayat-ayat Cinta merupakan salah satu tontonan yang sangat digandrungi tidak hanya anak muda tetapi orang tua. Namun ternyata dibalik demam Ayat-ayat Cinta ini, menyisakan sebuah cerita tragedi, dimana seorang isteri kehilangan suami tercinta ketika menonton film yang fenomenal tersebut.

Hari Kurniathama, Pontianak

PEMUTARAN Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karangan Habiburrahman El Shirazy, disambut antusias. Sejak pemutaran perdana pada Selasa (26/2) lalu hingga tadi malam di A Yani 21 selalu dijejal pengunjung. Mereka tak saja dari kalangan remaja. Kaum tua pun juga larut oleh Ayat-ayat Cinta ini.

Film tersebut juga menarik perhatian Gusti Andi Faisal (63 tahun). Bersama sang istri, warga Komplek BTN Teluk Mulus, Gang Perintis V satu, Desa Teluk Kapuas, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, ini menonton pada jam tayang pukul 15.00 WIB, Studio 1. Kedua pasangan ini menuju bioskop dengan menggunakan mobil pribadi.

“Ketika datang hingga duduk di bioskop, Bapak masih dalam kondisi yang baik,” kata Ny Faisal. Bahkan sebelum acara dimulai sang isteri sempat menelepon anaknya, Lia yang berada di Banjarmasin, Kalsel, walaupun tidak sempat berbicara dengan sang Ayah. Kemudian pada saat yang sama sang isteri tidak melihat gejala-gejala apapun dalam diri suaminya. Apalagi gejala sakit.

Kemudian film yang ditunggu pun dimulai. Setelah sekitar kurang lebih 90 menit film pun usai. Seperti biasa ketika para penonton memadati bioskop pun beranjak keluar, lampu kuning bioskop menyala tanda pemutaran film berakhir. Sang isteri melihat suaminya sedang tidur. Lalu dengan spontanitas Ibu Faisal membangunkan suaminya dengan menggerakkan tubuh berkali-kali. Ternyata hal tersebut tidak membuat sang suami terjaga. Sehingga sang isteri merasa khawatir dan langsung meminta pertolongan. Untunglah seorang mahasiswa kedokteran yang berada tepat di depan kursi korban duduk langsung membawa keluar Gusti Faisal bersama petugas bioskop.

Korban pun langsung dibawa sementara waktu ke ruangan petugas sembari menunggu Mobil Ambulance datang. Setelah itu korban dilarikan ke rumah sakit RSSA Antonius.

Menurut keterangan sang isteri, Gusti Faisal ketika sampai di rumah sakit telah tiada. Diduga meninggal diperjalanan. Sang isteri kepada tetangganya mengatakan kematian suami tercinta kemungkinan dikarenakan serangan jantung.

Antusiasme warga Pontianak untuk menonton film tersebut, kata Sastrawan Pontianak, Hamizar ‘Bazarvio’ Ridwan, sangat wajar mengingat buku dengan judul yang sama, yang mengilhami pembuatan film tersebut, sangatlah fenomenal.

“Novelnya bisa membius. Karena cerita yang berseting di Cairo, Mesir, mengungkapkan kaum muda yang tidak terlepas dari nuansa agamis. Sangat romantis dan humanis. Seperti yang saya tuliskan dalam testimoni di buku itu, selesai membacanya, bisa membuat hati menjadi gerimis. Jadi, sangat wajar jika filmnya juga ditunggu oleh masyarakat,” kata wartawan senior Pontianak Post yang juga sahabat Habiburahman El Shirazy yang bersama-sama pernah menghadiri acara baca puisi di Kuala Lumpur beberapa tahun lalu.

Sementara itu Caroline Voermans, 26 tahun, ikut memuji film tersebut. “Walaupun ada bagian-bagian yang hilang seperti yang di buku aslinya, tapi tidak memengaruhi makna dari film ini. Sungguh menyentuh jiwa. Empat jempol untuk film ini,” katanya usai menyaksikan pemutaran Film AAC.

Seperti dikutip dari website penerbitanbuku.wordpress.com, penulis buku novel Islami Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, meraih royalti dari buku-bukunya hingga Rp1,5 miliar. Hal itu disampaikan Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika dalam acara bedah buku di Gramedia Matraman, Jakarta beberapa waktu lalu.

“Kami baru saja mencetak 10 ribu eksemplar untuk persediaan tahun depan, tapi sudah habis duluan,” kata Tommy. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Republika ini sejak Desember 2004 itu kini sudah dicetak 30 kali dengan total buku mencapai 300 ribu copy.**

Sumber berita TOPIK Malam antv tanggal 7 Maret 2008

March,2008

tentang Film Ayat-ayat Cinta..

Filed under: AAC — perycantiq @ '9:49:a'

Tayang : 28 Februari 2008
Genre : Drama Religius Roman/Percintaan
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis Naskah : Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Karya Habiburrahman El Shirazy
Produser : Manooj Punjabi
Rumah Produksi : MD Pictures
Durasi : 95 Menit
Klasifikasi Penonton : 13 Tahun Keatas (13+)
Portal : http://ayatayatcintathemovie.com/
Pemain :
Fedi Nuril sebagai Fachri
Rianti Cartwright sebagai Aisha
Zaskia Adya Mecca sebagai Noura
Melanie Putria sebagai Nurul
Carrisa Putri sebagai Maria
Oka Antara, Surya Saputra, Dennis Adiswara

Akhir dari sebuah penantian

Setelah menunggu tanpa waktu (ingat judul lagu siapa hayoo…), akhirnya kepastian rilis film yang dinanti oleh banyak kalangan ini muncul. Sebuah pencapaian yang diraih dengan kerja keras dan proses yang berliku dari Hanung, Manooj, Salman & Ginatri, serta para pemain dan kru dari MD Pictures. Sekaligus akhir penantian bagi sekian banyak pembaca novel yang kabarnya masuk kategori terlaris di seantero negeri ini maupun para penikmat film lainnya. Gaung yang memiliki sisi positif bagi promo film, namun bisa saja berdampak buruk jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan banyak pihak.

Hingga suatu hari, undangan gala premiere film tersebut tiba-tiba saja terpampang dengan manis di meja saya, 18 Februari 2008, adalah tanggal yang tertera didalamnya. Dengan kemasan yang cukup eksklusif mengalahkan undangan pernikahan adik saya yang baru lalu, seolah mengisyaratkan keseriusan sang pengundang dan memberi kilasan ke glamouran dari film yang menurut produsernya membuat seluruh hidupnya selaksa dipertaruhkan. Wow….

Film pembangun jiwa

Dan… Film dibuka dengan adegan Fahri yang tengah kebingungan, karena file-file komputernya hilang, sehingga harus meminta bantuan tetangganya, Maria, dengan menampilkan dialog bahasa arab (yang kemudian juga mengisi sebagian film) beserta teks terjemahan.

Duarr…. Sebuah awalan yang sangat tidak terduga dan mengejutkan, pilihan yang cukup cerdas, namun khas. Dengan bahasa gambar Hanung merangkai sebuah kekikukan saat seorang perempuan bukan muhrim memasuki flat bertuliskan Baiti Jannati tempat Fahri dan kawan-kawan tinggal, mulai dari membetulkan posisi duduk hingga saat Syaiful telat memberitahu kawannya (Dennis Adhiswara) untuk tidak keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dan celana pendek. Kejadian yang merupakan simbolisasi yang baik dari akhlak Fahri dan kawan-kawan saat Maria yang cantik dengan ringan tangan membantu Fahri mengetik ulang proposal tesisnya.

Lalu, ceritapun bergulir, ke saat Fahri hendak pergi talaqqi ke tempat ustadz Usman, dengan runtun tergambar bagaimana Maria kemudian meminta tolong untuk membelikan disket dan menghadiahkan ashir mangga kepada Fahri, langkahnya sempat terhenti sebentar oleh adegan Noura yang sedang disiksa oleh Bahadur didepan orang banyak tanpa ada yang berani menghalangi hingga akhirnya ia sampai di tempat ustadz Usman. Perjalanan pulang dari talaqqi membawa Fahri dalam perkenalan secara tidak sengaja dengan Aisha, yaitu saat ia hendak menghalangi seorang Mesir yang membentak Aisha karena memberi tempat pada orang Amerika, meski untuk itu ia mendapat pukulan.

Sampai titik ini dapat terjelaskan bagaimana Salman dan Ginatri, pasangan yang menulis skenario film ini mencoba untuk membuat sebuah plot cerita yang padat, merangkum sekian ratus lembar halaman novel kedalam skenario yang memiliki berbagai keterbatasan tanpa mengurangi inti cerita maupun sisi menarik lainnya.

Sentuhan seorang Hanung (Sutradara peraih Citra 2004 dan 2007) tetap terlihat lewat bahasa gambar yang sangat dikuasainya serta menampilkan berbagai detail yang “tertulis” menjadi terucap atau hanya tervisualisasikan sesaat. Namun sangat disayangkan ketika kita harus membayangkan Mesir sebagai latar film, maka simbolisasinya tidak dapat terlihat dengan jelas, kemegahan Mesir sebagai salah satu pusat kebudayaan tertua tidak terbangun. Setting Al Azhar juga gagal, mungkin karena figuran yang menjadi siswa-siswinya kelihatan terlalu Indonesia. Sementara sungai Nilnya sendiri tidak terlihat anggun dengan angle kamera yang hanya melulu mengambil jembatan dan air dibawahnya. Entah apa yang terjadi sehingga menyebabkan film ini menjadi “miskin” dalam pengadeganan di luar ruangan.

Hal berbeda ditunjukkan dalam pemilihan karakter, semua karakter utama Fahri, Maria, Aisha, Nurul dan Noura yang dominan memang tampak tepat dimainkan oleh aktor dan aktrisnya. Nilai plus diperlihatkan oleh Carrisa Putri, sosok Maria, seorang gadis yang memendam cinta nampak hidup dalam dirinya. Namun untuk karakter pembantu terasa kurang mewakili, semuanya jadi terasa terlalu Indonesia dan tidak riil, beda sekali dengan pemilihan Carissa untuk Maria dan Rianti untuk Aisha dengan wajah non-pribuminya.

Sosok Fedi Nuril yang tidak kekar, ganteng dan bertampang alim memang terlihat cocok menjadi Fahri. Terlebih dengan peniadaan karakter yang ringkih dan sakit-sakitan berganti dengan sikap yang sedikit gentle, tetap butuh curhat dengan teman dan bisa meledak seperti ditunjukkan saat ia marah-marah dipenjara, membuat ia terlihat sedikit manusiawi seperti yang diinginkan sang sutradara. Dan Fedi Nuril mampu memainkannya dengan meyakinkan.

Catatan juga layak dialamatkan pada beberapa adegan yang akan lebih baik jika dibawakan dengan dialog arab dengan teks terjemahan, seperti saat polisi menangkap Fahri atau saat ritual persidangan dimulai. Pemilihan adegan kecemburuan Aisha dalam film yang sedikit berlama-lama juga layak untuk dikritik, mengingat konflik yang langsung selesai dengan kata-kata Fahri kepada Aisha dan Maria yang mendadak berubah sikap.

Namun, film memang berbeda dengan novel, dengan keterbatasan durasi dan perbedaan mendasar dari bentuk tulisan ke bentuk audio visual, maka film ini cukup baik dan kreatif dalam menterjemahkan bebas isi novel Habiburrahman El Shirazy. Pemilihan angle bercerita dan eksplorasi yang dilakukan dalam beberapa dialog dan adegan mampu memberi sensasi tersendiri.

Adegan pemukulan terhadap Fahri diatas KRL tidak ada dalam novel, tapi pemunculannya justru mampu menghidupkan film dan memberi gambaran yang lengkap. Demikian pula dialog seorang tahanan dengan Fahri yang mengutip kisah nabi Yusuf ataupun simbolisasi lukisan dan salib yang menjelaskan latar belakang Maria yang dengan cerdas mampu menggantikan catatan dalam novel tanpa mengurangi makna.

Demikianlah, semoga saja semua catatan ini tidak mengurangi nilai dakwah yang memang menjadi tema dari film dan keasyikan anda saat menonton pada 28 Februari nanti. (Musashi)

« Newer PostsOlder Posts »

The Banana Smoothie Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.