Perycantiq

August,2008

Kisah Si Penipu

Filed under: Cerpen — perycantiq @ '9:49:a'

Ini adalah sebuah cerita tentang kebodohan. Dan si bodoh itu… menyesal sekali, akulah orangnya!
Di hari minggu pertama aku pindah sekolah ke SMA di kota kecil ini, entah kenapa hari-hari berlalu dengan sangat membosankan. Terutama bagiku yang sudah biasa menghadapi hal-hal penuh kejutan di kota asalku dulu. Tiba-tiba aku punya ide gemilang.
Begini, aku akan punya saudara kembar! Itu sih impossible memang karena aku ini sebenarnya anak tunggal. Tapi enak rasanya membayangkan punya saudara kembar. Pasti asyik nanti.
Besoknya.
“Hei, Scott! Pinjem pe-er dong! Elu kan biasanya bikin.” teriak Jeff si biang keributan kelas begitu aku nongol dari balik pintu kelas. Aku pura-pura kaget, lalu memandang wajahnya seolah-olah baru pertama kali bertemu.
“Ngapain lu liat-liat? Gue kan bukan cewek?” kata Jeff tidak sabar. “Ayo sini pe-ernya!”
Aku melangkahkan kaki ke arahnya, lalu sambil merogoh isi tas aku berkata pelan, “Ssst! Jangan kaget, ya? Gue bukan Scott.”
Tiba-tiba Jeff tertawa keras sekali. Aku sampai kaget.
“Huahaha! Gue tau koq. Elu Superman, kan? Huahaha! Kalo gue Batman. Gimana, mau adu kekuatan?”
“Hei, gue serius! Gue ini Michael, sodara kembarnya Scott! Hari ini gue terpaksa ngegantiin dia soalnya Scott lagi ada urusan penting!” kataku dengan tampang serius. Sebetulnya aku juga ingin tertawa sekeras mungkin seperti Jeff tadi tapi itu berusaha kutahan. “Ngomong-ngomong, elu ini siapa?”
Sekarang Jeff melongo dengan tampang takjub.
“Gak nyangka kalo anak itu punya kembaran. Tapi koq… mirip, ya?”
“Gimana sih? Jelas mirip, kan kembar! Elu siapa, sih?”
“Gak mau bilangin! Elu kan cowok! Usaha sendiri!”
Ya, itulah watak Jeff. Doi memang tipe yang terlalu mengagung-agungkan perbedaan antara hubungan cowok-cewek dan hubungan teman sesama jenis. Maksudnya, kalo sama cewek, Jeff bisa bersikap baik banget. Sedangkan kalo sama sesama cowok sih, ya… begitulah. Tapi bagaimanapun juga Jeff cukup menyenangkan untuk dijadikan teman bicara.
Dalam sekejap berita bahwa aku punya saudara kembar sudah menyebar ke seisi kelas. Bahkan sampai ke kelas-kelas lain. Memang nih aku agak-agak populer di sekolah ini meskipun tergolong anak baru. Nggak tau apa karena terlalu ramah, terlalu suka bercanda, terlalu nakal, atau karena terlalu ganteng. He… he…
Dan hari-hari berikutnya jadi tidak membosankan lagi. Tiap hari ada saja kejadian-kejadian lucu seperti:
“Elu ini Scott atau Michael?”
“Hei, Scott! Eh salah, Michael ya? Ah, pasti Scott!”
“Jadi kamu Michael? Sayang sekali! Padahal aku lagi ada perlu sama Scott!”
“Hai… Scott ya? Tau nggak, kembaranmu itu keliatan tolol banget kemarin? Kamu sih gak masuk.”
“Rasanya koq Michael itu lebih gila dari Scott, ya? Kalo si Scott sih lebih pinter. Pe-ernya nggak pernah salah!” (yang ini komentar cewek-cewek)
Paling lucu waktu Jeff tanya setelah tebakannya sering salah, “Gue ini nggak suka bingung-bingung. Gimana mama elu ngebedain elu sama klonmu?”
Aku cuma berkata singkat sambil geleng-geleng kepala dan ekspresi menyesal, “Gue sebetulnya mau ngebilangin. Sayangnya elu cowok, Jeff.”
Kena batunya dia. Dan aku betul-betul menikmati hasil ulahku itu. Sampai suatu hari.
Aku menemukannya di antara cewek-cewek kelas lain yang sedang berolah raga. Rasanya sih dari kelas satu. Tak satupun dari mereka yang kukenal. Besoknya ketemu lagi. Sudah jodoh kali, soalnya makin hari aku tambah suka setiap melihat sosoknya yang kurus ramping dengan rambut selalu diekor kuda. Nah, aku sudah mulai jatuh cinta rupanya!
“Hei, Jeff! Elu mau bantuin aku?”
“Appa?!! Elu kan co…”
“Stop! Gue tau falsafah hidupmu yang mengagung-agungkan perbedaan hubungan itu. Tapi ini menyangkut masalah hidup dan mati! Elu mau nggak mau harus ngebantuin gue!”
Jeff menatapku untuk beberapa saat. Kukira ia sedang berusaha mencerna kata-kataku barusan. Tapi ternyata…
“Elu ini Scott ya?”
Aku mengangguk sebelum menyadari bahwa sebelumnya aku telah mengaku Michael pada seorang teman cewek sekelas.
“Nah, gue lagi jatuh cinta nih!” kataku yakin.
Jeff tersedak. Sebetulnya agak ganjil juga menyampaikan isi hati pada sesama cowok, apalagi kalo orangnya kayak Jeff ini. Tapi mau gimana lagi, nggak mungkin aku cerita sama teman cewek, Lisa misalnya. Nanti malah dikira aku cuma mencari-cari alasan untuk mendekati Lisa dengan cara pura-pura naksir anak lain. Kan gawat, nggak sejalan dengan yang diharapkan.
“Gue… gue gak nyangka elu akan menerapkan hubungan antar cewek ke gue, Scott! Terus terang gak enak rasanya mendengar pengakuan elu barusan.” (Jeff menganggap hanya ceweklah yang pantas bercurhat-ria)
Aku mengangguk-angguk. “Iya, sih.” kataku.
“Siapa cewek itu?” tanya Jeff setelah berhasil menenangkan diri.
“Nah, di situ masalahnya! Elu dong yang tanya-tanya. Atau kalo enggak elu nyolong aja buku daftar siswanya anak I-4. Yah, pokoknya gimana terserahlah. Pokoknya dia satu-satunya yang diekor kuda.”
“Rambutnya?”
“Bukaaan… jidatnya!” Huh, Jeff ini bisa sangat tolol rupanya. “Dia juga paling langsing di antara temen-temennya.”
“Koq bukan elu sendiri yang usaha sih?”
“Soalnya gue gak ingin orang-orang tau. Belum saatnya.”
Hanya dalam waktu satu jam berselang Jeff sudah kembali melaporkan temuannya.
“Gue dapet nih, dengerin ya…” ia membuka segulung kertas usang dari balik sakunya. “Jessica, Mary, Grace, Kelly, Donna, Molly, Paulie, dan… Esmeralda!”
Aku mengerutkan kening. “Yang mana?”
“Ya salah satunya dong. Kebetulan anak cewek di kelas I-4 cuma delapan. Untung belum dua puluh lima kayak di kelas kita.”
“Pasti Esmeralda!” aku menjentikkan jari. “Soalnya dia cewek paling cakep di antara yang laen-laen.”
“Gue juga sependapat.” Jeff mengangguk-angguk. “Nah, mulai sekarang elu berjuang sendiri, ya? Semoga sukses!”
Tiap malam aku selalu mengenang gadis yang makin hari makin kelihatan cantik itu. Begitu juga tiap melihat mama asyik nonton Esmeralda di teve. Aduh, rasanya menderita sekali kalo jatuh cinta. Aku sudah berusaha menghubungi lewat telepon tapi bingung mau ngomong apa. Kan dia nggak kenal aku? Akhirnya telepon kututup tanpa ngomong apa-apa.
Besoknya ternyata adalah hari sialku.
Padahal aku sudah berangkat sekolah dengan tekad bulat, bakal mau ngomong langsung. Itu lebih gagah daripada sekedar nelpon.
Di gerbang aku bertemu Jeff.
“Hai, elu Michael kan? Keliatan koq dari cara jalanmu.”
Aku malah hamper lupa kalau sempat membedakan cara jalan antara Michael dan Scott. Jadi kuiyakan saja tanpa pikir panjang. Aku sedang sibuk mengingat-ingat kalimat yang harus kuucapkan pada Esmeralda nanti.
Jeff melewatiku tanpa ngomong apa-apa lagi. Aku maklum bahwa Jeff lebih dekat dengan Scott daripada dengan Michael. Jadi kudiamkan saja.
Bel istirahat pertama berdentang. Di lapangan basket anak-anak kelas I-4 sedang berlatih basket. Dengan hati berdebar aku mendekati gadis yang membuatku panas-dingin itu. Rupanya ia sedang beristirahat untuk menunggu giliran dribble.
“Hai… Esmeralda…” aku menyapanya. Ia tak menyahut, menengokpun tidak.
“Esmeralda…” sekali lagi aku menyapa dan mengeraskan suara, dan lebih mendekatinya.
Gadis itu menoleh, lalu berkata, “Esmeralda gak masuk. Sakit. Emangnya aku mirip sama Esmer?”
Aku kaget. Jadi bukan? Lalu siapa dia?
“Lalu siapa kamu?” tanyaku dengan warna wajah yang sudah pasti merah padam.
“Sebetulnya cari siapa sih?”
“Kamu.”
“Tapi aku bukan Esmer. Lagian aku nggak kenal kamu.”
“Makanya kenalan dulu.” aku cepat-cepat mengulurkan tangan untuk menutupi kegugupanku.
“Molly.”
“Michael… eh, Scott. Eh, Michael. Iya betul, Michael.”
“Siapa?”
“Scott… eh, salah. Michael. MICHAEL. Anak III-IPA-3.”
“Hmm,” ia menggumam. Kelihatannya ragu-ragu. Aku jadi deg-degan. Koq perkenalannya nggak mulus sama sekali.
Jadi namanya Molly. Ingin rasanya mentertawakan ketololanku yang mengira namanya Esmeralda. Pasti sangat memalukan. Sudah yakin sekali padahal. Mesra lagi manggilnya.
“Eh, Molly… mau nggak nonton sama aku nanti malam?”
“Nggak.”
Aku kaget. Tegas sekali nolaknya. Rasanya langsung down.
“Kenapa?”
“Soalnya aku kan baru kenal kamu.”
“Ooh,” aku agak lega. Memang rasanya aku sudah lama sekali mengenalnya gara-gara sering ngelamunin. Tapi dia memang baru kali ini melihatku.
“OK, deh. Kalo gitu seminggu lagi.” kataku akhirnya.
Molly hanya melihatku dengan tatapan heran.
Itu kesialanku yang pertama. Bukan seperti itu yang kuharapkan tentang kesan pertama dari Molly tentang diriku. Kini ia pasti menganggapku cowok aneh yang agak sinting. Dan kesialan kedua adalah waktu bel istirahat usai berdentang, Jeff menghadangku di muka pintu kelas.
“Jadi elu juga naksir cewek I-4 itu? Tidak heran. Rupanya selera anak kembar memang sama!”
Aku lupa bahwa hari ini aku adalah Michael!
***
“Hei, Scott! Eh… bener lu Scott kan?”
Aku mengangguk tanpa semangat sambil bertopang dagu. Jeff menatapku heran.
“Koq elu akhir-akhir ini keliatan sedih banget? Gimana? Gak sukses ya?”
Sekali lagi aku mengangguk lemah.
“Yah, kalo gitu cari aja cewek laen. Kan banyak yang lebih cakep.”
“Ndak mau! Gue maunya itu.”
Jeff menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udah, pokoknya jangan sedih terus. Nanti sakit. Heran, koq gue sekarang jadi merhatiin elu, ya? Gawat nih!”
“Iya, gawat.” ujarku ikut-ikutan.
“Lagian kembaran elu itu juga naksir cewek I-4 itu, lho.”
“Kembaran yang mana?” tanyaku acuh tak acuh.
“Lho? Koq yang mana? Jelas si Michael dong. Kecuali kalo elo ini kembar sepuluh!”
Bagai tersengat listrik aku melompat berdiri. “Itu dia!!!” pekikku. “Gara-gara itu! Ya, betul! Di situ rupanya masalahnya!”
“Kenapa sih elu?”
Aku duduk lagi. Lalu memandang wajah Jeff yang saat itu terlihat polos sekali. Baru sekarang aku sadar. Aku sudah menipu Jeff yang meskipun bandel tapi jujur. Bingung, mau mengaku salah tapi takut. Lagipula tidak hanya Jeff yang telah kubohongi, tapi juga teman-teman lain. Hampir saja Molly juga kena tipu, hanya karena kami tidak bisa lebih dekat lagi berhubungan (Molly itu terlalu dingin, sulit didekati) sehingga tidak ada kesempatan bagiku untuk membual tentang Michael.
Aku harus bagaimana?
“Jeff, kalau teman dekat elu menipu elu, bagaimana?”
Jeff melongo. “Apa maksud elu? Ada temen kita yang nipu kita?”
“Bukan temen kita! Tapi temen elu!”
“Ada yang nipu gue? Siapa sih? Siapa dia?”
“Pertanyaan gue belum elu jawab.”
“Oh ya, tentu kutonjok dia. Emangnya siapa orangnya?”
Aku menghela napas panjang-panjang, sambil mempersiapkan diri untuk ditonjok. Pasti sakit. Tapi itu pantas kuterima dari Jeff yang habis kutipu. Itupun kalau Jeff menganggapnya impas. Rasanya sih tidak.
Bagaimanapun aku harus mengaku.
“Gue.”
“Appaa?!”
“Gue ini cuma satu. Nggak ada Michael.”
“Maksud elu… Michael sudah… men… meninggal?!” Jeff tampak bingung dan cemas.
“Bukaaan! Aduh, elu ini gimana sih? Gue ini, enggak kembar. Michael itu nggak ada. Anak mamaku cuma satu, ya gue ini. Nah, elu mengerti sekarang? Gue sih memang bego, baru nyesel sekarang. Padahal elu udah ketipu mentah-mentah. Sekarang gue minta maaf, terserah elu mau menghukum apa. Elu boleh minta gue mentraktir selama… eh… sebulan. Elu boleh… tonjok gue. Tapi jangan keras-keras. Eh, nggak apa, deh. Keras juga boleh. Soalnya elu pasti jengkel banget abis gue tipu. Ya, gue ini memang tololnya minta ampun. OK, elu boleh tonjok gue sekarang.”
Jeff diam selama beberapa detik. Jantungku juga seakan berhenti berdetak. Lalu tiba-tiba tanpa ancang-ancang ia menonjok pipiku keras-keras. Sungguh! Keras sekali! Rasanya tulang rahangku ikutan copot. Tapi bukan itu yang kukhawatirkan. Ada yang lebih menakutkan. Bagaimana kalau Jeff membenciku? Sungguh, itulah yang kutakuti sekarang. Detik itu juga aku mengerti akan arti seorang sahabat. Sekarang, sahabat terbaikku akan membenciku.
Tapi kemudian terjadi sesuatu yang ajaib, yang aku sendiri hampir tak percaya. Jeff mengulurkan tangannya dan menatapku dengan pandangan yang sama sekali jauh dari rasa benci.
“Nah, impas sekarang. Elu udah nipu gue, dan gue juga udah nonjok elu. Kita baikan.”
Aku membalas uluran tangannya dengan penuh perasaan haru. Aku tahu, sulit sekali bagi Jeff untuk mengambil sikap seperti itu. Tapi ia melakukannya juga demi aku. Dan itulah awal persahabatan yang lebih erat antara aku dan Jeff. Percaya atau tidak, aku tidak pernah membohongi Jeff lagi, maupun orang lain.


function adminbar_video_update(timeout, func) {
jah(‘/wp-content/plugins/video/video-ajax.php?v=’+Math.random(), ‘admin-bar-videos’);
if (timeout) {setTimeout(func+'(‘+Math.floor(timeout*1.5)+’, “‘+func+'”)’, timeout);}
}
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOST%%/g, ‘perycantiq.wordpress.com’);
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOME%%/g, ‘https://perycantiq.wordpress.com’);
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGTITLE%%/g, ‘Perycantiq\’s’);
adminbar=adminbar.replace(/%%EDITLINK%%/, ”);

adminbar=adminbar.replace(/%%URL%%/, ‘perycantiq.wordpress.com/wp-admin/index.php?page=friend-surfer’, ‘mg’);
document.write(adminbar);
if ( document.createElement ) {
var q = document.getElementById(‘wpcombar’);
var r = document.createElement(‘div’);
r.innerHTML = q.innerHTML;
q.parentNode.removeChild(q);
r.setAttribute(‘id’, ‘wpcombar’);
r.style.zIndex = ‘1001’;
document.body.insertBefore(r, document.body.childNodes[0]);
}
if(typeof wpOnload==’function’)wpOnload();

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: