Perycantiq

August,2008

Sekolah BaruKu..

Filed under: Cerpen — perycantiq @ '9:49:a'

-sekolah baruku-

Aku sebenernya ga mau sekolah di sini. Banyak alasan aku ga mau ; pertama, tempatnya jauh di luar kota. Kedua, aku banyak punya temen akrab di es-de,sehingga berat berpisah dengan mereka. Ketiga, akupun sudah janjian mo masuk es-em-pe negri di dekat rumahku. Keempat, ini yang paling berat, karena, aku ga suka banget masuk asrama. Karena sekolah baruku ini berasrama alias pesantren. Baru denger kata pesantren aja aku dah ga suka, apalagi sekolah di sana. Nggak kepikir sama sekali, ngimpi aja nggak. Ih, amit-amit…jijay…! tapi apa boleh baut et buat, bunda-ku terkasih maksa aku terus setiap hari agar aku mau masuk pesantren. Maju terus pantang mundur, begitu mungkin semboyannya. Padahal aku sudah sampaikan keberatanku, seribu lima belas alasan kuberi, tapi, ya gitu lah, bunda-ku ga mo denger alasanku lagi. Lagian siapa yang mo sekolah pake maksa-maksa segala…ah, bundaku sayang… sayang sekali… sekali sayang…sayang disayang… sayang bundaku…hehe…kok jadi ginee ya…?!

“Kamu coba dulu aza Fi, kamu pasti suka…!” begitu bundaku membujuk. “sekolahnya keren lo Fi…” tambahnya sambil membelai rambutku dan menyerahkan brosur sekolah.

“Ughh…! gombal…!” batinku. “sa bodo teuing…” brosur itu kuambil untuk menyenangkan bundaku dan kuletakan begitu saja di meja. Setelah bunda berlalu kuambil brosur itu dan kucabik-cabik sedemikian rupa, kutumpahkan rasa kesalku, terus kucabik dan kucabik hingga berubah wujud jadi potongan kertas kecil-kecil. Ho-ho-ho hebatnya aku. Aku puas rasanya.

Hari ini aku akan tes seleksi, mestinya sih pekan lalu, tapi karena bundaku ada acara mendadak sama nenek, akhirnya tes hari ini deh, gelombang kedua. Bagi bunda malah lebih seneng dia, karena lokasi tesnya di Depok, jadi lebih dekat, karena tes gelombang pertama di Subang, tempat lokasi sekolah itu. Aku ga siap apa-apa, alat-alat tulis juga bunda semua yang nyiapin, apa lagi mo baca-baca segala, aku malah berharap ga lulus seleksi. Aku bener-bener ga mau sekolah ke sana. Titik. Tapi bundaku luar biasa gigihnya membujukku, hingga akhirnya hatiku luluh juga deh… hii, si Bunda emang luar biasa.

“Yah, itung-itung pengalaman deh… en nyenengin bundaku tercinta.” Ujar hatiku. Dah gitu tesnya juga susah lagi, selain tes akademik, ada juga tes baca qur’an, wawancara dan kesehatan. Aku ga mikirin bisa apa nggak. Pokoknya tes. tes. tes. tik. tik. titik.

Konyolnya lagi, dua minggu kemudian, ada telpon dari sekolah itu, bahwa aku diterima. Padahal pinginnya aku ga lulus seleksi aja. Kan aku jadi bisa masuk sekolah favoritku, es-em-pe negri dekat rumahku.

“Ugh…!” Kesel banget jadinya… “Huuuu…huuuu…huu… “ aku nangis bombay aja deh…”Bundaaaaa…! kenapa kau lakukan ini padaku huuu…, kau paksa aku hiiii, aku-kan bukan Siti Nurbaya yang dipaksa-paksa…haaaa….” Bunda diam aja, karena emang dia ga denger. Aku cuma nangis di kamar mandi. Tapi tidak dengan bundaku, senengnya minta amplop, eh, minta ampun. ia seneeeng banget denger pengumuman itu.

“Alhamdulillah, syukur kamu di terima Fi…, syukur…” bundaku malah sujud syukur segala.

“Uh, jadi sebel! Bunda begitu banget seeh! Ga tau perasanku.” Padahal perutku makin ngerasa mual en kepalaku jadi pusing tujuh keliling… “Lontoong, eh toloooong…!” aku jadi serba salah sekarang. Setelah itu mesti periksa darah dan ronsen paru-paru segala lagi “Ukh! “ Keluhku tak berkesudahan. jadi makin sebel aja jadinya…”Auoooo…. auoooo…. aku tarsan…siapa bisa tolong akuuuu… tolooong…!“

Ini hari pertama aku datang ke asrama. Ayah dan bundaku sudah nyiapin segalanya. Kemarin aku-pun diajak ke mall untuk membeli kebutuhan selama di asrama, en barang-barang yang harus dibawa. Jangan salah, sikapku masih tetap istiqomah. belum berubah, ga mau tinggal di asrama. Aku uda ngebayangin asrama yang sempit, kotor en jijay-lah pokoknya… murid-muridnya juga pada norak dan kampungan. Aku ga suka, aku ga sudi… tapi lagi-lagi bundaku, ia emang tipe ibu oke banget seh… Ia teruuus aja ngebujuk aku. Meski ia tau aku sangat tidak suka di asrama, tapi ia seakan menyihir ku untuk datang aja dulu, lihat ke sana dan … entahlah, pokoknya, aku ga suka, diajak survey-pun aku ga mau. Pokoknya aku ga mau, titik.

“Ga apa kalau sekarang kamu ga mau, tapi kamu ikut tes seleksi ya…?” gitu bunda ngebujuk aku. Nah itu anehnya, aku ga bisa menolak langsung di depan bunda. Dengan begitu akhirnya aku klenger juga dengan bujukan bunda yang bertubi-tubi itu, dan dalam hatiku akhirnya ada juga keinginan untuk nyoba dulu aja…

“Yes! Horeeee…!” Mungkin gitu kali teriak bunda ya…, setelah berhasil membujukku. Proses panjang tak kenal henti, luar biasa memang.

Perjalanan dari Jakarta ke Subang sekitar tiga setengah jam. Lumayan capek dan pegel-pegel badanku. Tapi ayah cuma senyam senyum aja sepanjang perjalanan. Kayaknya menikmati sekali perjalan itu. Emang sih, setelah keluar dari tol Sadang dan masuk ke Subang pemandangannya lumayan asik. Hamparan sawah, gunung membiru di kejauhan juga kerimbunan hutan karet. Tapi kenapa batang-batang pohonnya jadi miring-miring gitu. Aku males nanya ke ayah ato bunda-ku. Lagi sebel… tapi rasa ingin tauku terus meletup-letup. Eh pembaca ada yang tau ga ya? Kenapa batang pohon karet itu pada miring-miring gitu ya…?

Setelah melewati kota Subang pemandangannya lebih oke lagi. Jurang, tebing dan lembah. Sungai, pohon-pohon besar dan gunung. Gunung yang semakin dekat sungguh semakin indah dilihat. Jalanpun mulai menanjak. Udara mulai terasa sueeejuk. Khas udara pegunungan. Ayah sengaja membuka jendela mobil, hingga udara segar masuk dengan leluasa. Menjarah wajahku, mengeroyok rambutku sampe uwet-uwetan. Karena jilbab pemberian bunda aku masih simpan di tas. Aku emang ga suka juga pake jilbab. Ih, kuno baggget. Di kiri kanan rumah-rumah penduduk berderet di sepanjang jalan. Kadang di selingi dengan hamparan sawah atau kebun-kebun yang menghijau. Semakin menanjak pemandangan semakin asik. gunung di sebelah kanan ku sangat indah dengan warna hijau yang menyegarkan pandangan mata dan menenteramkan jiwa. emang, hati rasanya nyaman gitu.

Ga lama kemudian, setelah melewati rumah makan abah yang cukup besar itu, jalan-pun semakin menanjak, kira-kira seratus meter setelahnya ayah membelokan mobilnya ke kiri. Masuk ke gang sempit. Hanya seukuran satu mobil saja. Pasti repot deh kalo ada mobil yang berlawanan arah. Rumah-rumah berjejer di kiri dan kanan. Terlihat kesan kumuh dan tak beraturan. Tiba-tiba penyakitku datang lagi, pasti pesantrennya seperti rumah-rumah yang berderet di sisi jalan itu, pikirku dalam hati. Payah deh… Tapi tidak sampai lima menit tiba-tiba mobil berhenti.

“Ya kita sudah sampai!” Ayah berseru sendiri. Dan apa yang kulihat seperti mimpi saja layaknya, sebuah komplek dengan gedung-gedung megah bertebaran di beberapa bagiannya. Menara dan kubah masjid yang kekuningan terlihat cantik, dengan latar bukit hijau menjulang. Terlihat juga bangunan seperti villa di kakinya. Pasti ada sesuatu yang menarik di sana. Di depan masjid hamparan luas menghijau pohon manggah dan jeruk berderet rapi. Diselingi pohon pisang di beberapa bagian. Setelah melewati gerbang utama yang berwarna hijau daun padi, seorang satpam mendekati ayah dan menunduk di luar jendela mobil.

“Es-em-pe ya pa…? Tanyanya dengan senyum ramah meski kumisnya cukup tebal. Giginya putih, tapi dia pasti ga sadar kalo ada cabe merah di sela giginya itu. Hehe… habis sarapan nasi uduk ya pak satpam ledekku dalam hati. Ayah hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Lurus langsung pa…!” lanjutnya sambil memberi kode dengan tangannya agar ayah lurus ke depan. Kulihat bangunan dua lantai di sebelah kiri. Rupanya mini market dan klinik. Sedang atasnya entah apa. Sebelah kanannya lahan kosong yang hijau dengan tanaman buah. di sisi jalan bagian dalam kebun berderet pohon nanas dengan buah-buahnya yang besar-besar. Lebih besar dari nanas yang sering ku lihat di pasar. Ayah terus menyetir mobil perlahan, karena banyak pejalan kaki. Mereka pasti para pengantar seperti ayah dan bundaku juga. Kulihat juga beberapa anak putri seusiaku menjinjing tas ato menarik koper bawaan mereka. Mobil-mobil banyak berderet di sisi kiri jalan. Setelah melewati masjid, ayah memarkir mobil di depan aula. Sudah banyak juga mobil yang parkir. Wih keren juga ada aulanya. Begitu turun aku sempatkan mengintip ke dalam aula melalui jendela kaca, ternyata lapangan badminton.

“Horeee…!” Aku berteriak dalam hati. Berarti aku bisa main badminton sepuasnya di sini. Hehehe… Ayah segera menurunkan tas besar barang-barangku. Kami berjalan berbalik arah menuju asrama.

Aku memang seperti ga percaya dengan apa yang kulihat. Bukan apa-apa, tempat ini sama sekali tidak seperti yang aku bayangkan. Sebagai tempat yang sempit, kumuh dan norak. Karena aku emang blom pernah datang ke sini sebelumnya. Jangankan datang, melihat brosurnya saja aku ga sudi. Males. Tapi, begitu aku sampai di sini, dan melihat sendiri apa yang ada disini… hehehe… tapi aku mencoba menyimpan rasa ta’jubku di depan ayah dan bundaku. Jaim dong…

“Gimana Fi, suka ga di sini…?” Bunda bertanya, seperti tau apa yang sedang aku pikirin. Aku ga menjawab, karena tengah berusaha keras menahan senyum yang nyaris tak kuasa lagi kutahan. “Gimana? Kita balik aja!?” Tanya bundaku tiba-tiba.

“Jangan-jangan!” jawabku sepontan tanpa kusadari. Langsung kututup mulutku dengan empat jariku. Aku jadi malu sendiri terjebak dengan ucapan bundaku. Kulihat bunda cuma senyam-senyum saja penuh kemenangan. Terjebak kau.

“Ah, dasar bunda…!” ujarku dalam hati.

Kami terus berbelok kiri di depan gerbang utama yang tadi dilewati. Di sebelah kanan ada bangunan dua lantai lagi. Sepertinya gedung te-ka, alias taman kakek-kakek, eh taman anak-kanak maksudnya, karena ada mainan khas di halamannya. Ayunan, perosotan, de-el-el. Tapi di balkon atasnya ada spanduk bertulis

“SELAMAT DATANG PARA JUARA…!”

di kampus smp it As-Syifa –

“Wis para juara…” Ulangku dalam hati. “Apa iya muridnya para juara…? aku juga dianggap juara? Seneng juga rasanya dibilang juara. Akan aku buktikan nanti…!” tekadku diam-diam. Aku jadi merasa ge-er sendiri. Darahku seperti terkesirap dan bulu kudukku merinding menantang langit.

Di bawah spanduk itu beberapa meja berjejer. Di atas setiap meja ada tulisan terbuat dari karton; resgistrasi, buku-buku, tanaman, baksos, asrama. Berarti aku harus daftar dulu ngisi absen, juga menyerahkan barang-barang yang dibawa. Ada tanaman hias, tanaman obat, buku bacaaan, barang2 baksos dan pembagian kamar asrama. Meski harus antri dan desek-desekan aku asik2 aja rasanya. Ga tau kenapa, mungkin aku emang sudah mulai suka kali ya…? iya kali…! hehehe…

Setelah beres, aku terus berjalan bersama bundaku. Sedang ayahku lebih memilih mampir di kantin bersama beberapa ayah lain untuk beristirahat. Banyak orang yang lalu lalang menuju ke arah asrama. Di sebelah kanan jalan, setelah bangunan TK ada kantin dan wartel. Sedang di sebelah kirinya musholah putri. Di depan wartel ada dua buah meja berpayung dengan tulisan teh sosro, mungkin sponsor kali ya…? empat bangku yang mengelilingi tiap meja sudah terisi semua. “Pasti keluarga yang tengah mengantar juga” pikirku. Aku dan bunda terus berjalan.

Di sebelah musholah hamparan sawah menghijau lumayan luasnya. Kira-kira seluas dua lapangan sepak bola dengan kontur agak berundak. latar belakang bukit hijau lumayan asik dilihatnya. Terus terang aku suka melihat pemandangan hijau di sini. Tepat di depan musholah ada selokan yang cukup dalam, yah kira-kira satu meteran lah dan lebarnya kira-kira dua meter.. Berkelok alami dengan semak-semak tumbuh di kedua sisinya. Enam buah pohon kelapa tumbuh menjulang di sisi kanan. Di bawah pohon kelapa itu ada dua anak lelaki yang tengah memancing. Airnya yang kecoklatan mengalir pelan, tapi jika musim panas, katanya, selokan ini kering Dan di atas batang pohon kelapa sejajar, ada lagi spanduk dengan tulisan lebih keren;

“SELAMAT DATANG DI KAMPUS 1001 MALAM”

Sama dengan spanduk pertama, warnanya juga ngejreng. Paduan warna biru muda, hitam dan biru tua boleh juga tuh…

“Seribu satu malam, apa lagi neh?” Tanya hatiku. “Kayak Ali Baba en aladin aja. Di negri dongeng yang penuh mimpi. Naik karpet terbang, lampu ajaib dan jin botak” Benar, menurut panitia, kata 1001 malam mengandung tiga pesan yang ingin disampaikan. pertama 1001 malam selalu identik dengan dunia khayal, imajinasi dan mimpi. Di kampus ini kita akan merajut mimpi besar kita tentang kebangkitan ilmu dan peradaban islam. Bukankah masa depan selalu berawal dari mimpi? Gitu katanya. Kedua, 1001 malam menurut bukti sejarah adalah penjelasan tentang kota Bagdad yang penuh pesona. Pusat ilmu, pengetahuan, budaya dan peradaban. Dan itu adalah gambaran sangat jelas satu peradaban yang dibangun oleh umat Islam. Di kampus ini kita akan memulai langkah baru untuk merebut cahaya islam yang hilang itu. “Wih, keren juga ya…?” gumamku. Dan ketiga, 1001 malam dilihat dalam dimensi waktu. 1001 malam bisa berarti juga waktu selama tiga tahun. Artinya, para murid akan di asrama selam tiga tahun lamanya. Di masa itulah mereka akan menemukan pengalaman2 baru yang luar biasa. “hehehehehe…” aku cuma terkekeh panjang. “ Bisa aja panitia ya…?!”

Di depan asrama ada panitia lagi yang sudah menunggu.

“Asalamualaikum, selamat datang bu di as-syifa…” kata salah seorang panitia dengan ramah. Senyumnya ga putus-putus mengembang. Kulihat tulisan di name tag; Nanang di dada kirinya. Itu pasti artinya nama panitia itu Nanang.

“Nanang, namanya Nanang.”Ulangku dalam hati. Kayaknya aku pernah denger nama ini, dimana ya…? “O iya, nama tetangga nenekku yang sukanya manjat pohon itu. Kadang kalo ga ada pohon ia manjat tiang listri. Badannya akan gatal-gatal kalo sehari saja ga manjat pohon ato tiang listrik.

“Wa alaikum salam…!” bundaku menjawab. “Kalo Andalusia yang mana ya Pak…?” Tanya bunda lagi. bundaku memanggil bapak pada panitia yang imut itu. Ia memberi isyarat pada teman disebelahnya.

“Mari bu ikut saya…! Kata panitia lain sambil berjalan mendahului. Aku dan bunda mengikuti menapaki jalan berbatu. Ternyata asrama Andalusia ada di sebelah asrama yang pertama. Asrama pertama namanya cordova dan asrama dua andalusia. Masing-masing bangunan tiga ruang dan dua lantai. Jadi ada enam ruang. Bangunannya mirip, Masing2 dengan gaya bangunan oke lah. Bagus gitu maksudnya. Di dalam kamar, sudah ada beberapa orang, ada tempat tidur tingkat dari besi berjejer. Begitu juga lemari-lamari kayu. Aku masuk ke kamar dan mengatur semua barang2 bersama bunda. Memasang sprei, merapikan pakaian dalam lemari, juga buku-buku pelajaran.

“Gimana, kamu suka disini..?” bunda bertanya lagi menegaskan. Aku ga menjawab, cuma senyum aja lebaaar. Maksudku aku suka di sini. “Bagus lah kalo kamu suka. Bunda bilang juga apa….” Bunda senyum puas sepertinya. Ah, selama ini aku nyusahin bunda ya. Baru nyadar aku…maaf ya bunda. Plis bunda maaf ya…! anakmu yang penuh…

Aku dan bunda keluara kamar. Pandanganku lurus ke depan, dan aku baru ngeh, di depanku ada bangunan lain yang ga kalah oke. Bangunan berbentuk leter L itu adalah sekolah. Halamannya luas. Semua tertutup paping blok. Tebing2 ditumbuhi rumput, hijau… bagian atas tebing itu ditumbuhi bunga warna warni. Aku ga tahu bunga apa. Di bagian pemisah paping blok dengan rumput ada juga bunga-bunga lain yang bunganya lebih semarak lagi. Hal itu menambah aneka warna taman sederhana di sisi halaman sekolah.

Ada garis-garis kuning dan hitam di depan halaman itu. Yang kuning sepertinya line lapangan basket. Sedang yang hitam garis lapangan badminton.

“Wih, asik bunda, di sini ada lapangan basket juga.!” Seruku gembira. Bunda hanya tersenyum. Lalu menarik lenganku berjalan menaiki tangga menuju halaman sekolah.

Sampai di tengah halaman sekolah, matanya memutari tiap sudut depan sekolah. Pot-pot tanaman tersusun rapi. Sekali lagi, warna hijau alami mendominasi pemandangan di teras sekolah. Asri sekali. Belum lagi beberapa tanaman gantung dan merambat, membuat sekolah jadi sangat alami dengan warna hijau dedaunan itu. Mataku terus berputar. Di sisi kiri kulihat masjid dengan menara dan kubah kuningnnya. Dan di belakangnya ada bangunan megah di ketinggian. Itu perpustakaan yang tadi kulihat dekat tempat parkir. Mataku terus menjelajahi tiap sudutnya.dan ketika aku balikan badan,… tak kuduga, pemandangan yang lebih dahsyat. Gunung dalam jarak yang tidak terlalu jauh. “Jadi asrama ini dekat gunung?” Tanya hatiku. bukan, di atas gunung tepatnya. Ya, betul. Soalnya tadi jalan ke arah sini selalu menanjak.

“Ayo kita ke belakang Fi…!” ajak bundaku sambil berjalan pelan. Aku mengikuti ajakan bunda. Meski belum puas melihat pemandangan gunung dari halaman sekolah. Di halaman belakang, ternyata ada bangunan dengan dinding setengah terbuka, meja-meja kayu warna putih berjejer. Ruang untuk makan. Seperti menyatu dengan alam. Bunda seperti terheran-heran. Sambil masuk dan duduk di bangku pinggir sambil memandang kel luar. Hamparan sawah.

“Asik ya Fi di sini. Bunda suka Fi tinggal di sini…” Bunda tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Ya sudah bunda tinggal aja di sini. Nanti tidurnya sama Afi…” Jawabku sambil tertawa. Gimana nggak lucu, si bunda malah mo tinggal di sini segala. Seneng sih seneng… hehehe…si Bunda tuh kadang-kadang lucu juga emang.

Sore hari bunda dan para pengantar yang lain pamitan untuk pulang. Duh nyesek juga rasanya dadaku. Tinggal di asrama, jauh dari rumah, jauh dari bunda. Makan antri, mandi antri.

“Ah, tidak ada hasil hebat tanpa pengorbanan…! tak ada prestasi tinggi tanpa perjuangan…!” Hiburku pada diri sendiri. Aku menguatkan hatiku yang tengah mengharu biru. Tanpa terasa air mata bedah tak tertahan. Basahi pipiku. Basahi kerudung putihku. Tapi aku harus kuat. Untuk kebaikan diriku. Untuk kebanggaan ayah bundaku. Untuk kejayaan islam. Untuk sebuah perjalan panjang… demi tegaknya peradaban dunia yang islami. aku tengah menitinya, satu langkah kini telah kumulai … bismillah!

kampus peradaban as-syifa

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: